Analisis Klaim Indonesia "Negara Paling Bahagia": Antara Data Global dan Realita Solidaritas Sosial
Analisis Klaim Indonesia "Negara Paling Bahagia": Antara Data Global dan Realita Solidaritas Sosial
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menarik perhatian publik dengan mengutip sebuah riset internasional yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia. Namun, di balik klaim tersebut, terdapat nuansa yang lebih kompleks mengenai apa yang sebenarnya membuat masyarakat Indonesia merasa "berarti."
Dalam pidatonya di Perayaan Natal Nasional pada Januari 2026, Presiden menekankan bahwa meski dunia tengah bergejolak, Indonesia tetap stabil dalam harmoni. Ia merujuk pada hasil kerja sama riset antara Harvard dan Gallup untuk memperkuat argumennya
Mengenal Global Flourishing Study (GFS)
Riset yang dimaksud Presiden sebenarnya adalah Global Flourishing Study (GFS) yang dipublikasikan pada April 2025. Berbeda dengan survei kebahagiaan biasa, GFS mengukur dimensi "tumbuh dan bermakna" (flourishing).
Berikut adalah perbandingan data yang perlu dipahami:
Cakupan: Melibatkan 22 negara dan satu teritori (bukan 200 negara seperti yang sempat disebutkan dalam pidato).
Peringkat: Indonesia memang memimpin dengan skor 8,47, melampaui Meksiko dan Filipina.
Titik Lemah: Meskipun unggul secara sosial dan spiritual, Indonesia justru berada di posisi dua terbawah dalam dimensi stabilitas finansial dan material dengan skor sangat rendah (0,7).
"Warga Bantu Warga": Mesin Utama Kebahagiaan
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, berpendapat bahwa tingginya skor Indonesia bukan disebabkan oleh efektivitas kebijakan pemerintah, melainkan kuatnya akar solidaritas sosial atau gotong royong.
Nilai-nilai seperti tepo seliro (empati) dan budaya kolektif memungkinkan masyarakat Indonesia untuk tetap merasa bermakna meskipun menghadapi tekanan ekonomi. Beberapa poin penting yang disoroti adalah:
Resiliensi Kultural: Kebahagiaan diproduksi secara mandiri oleh masyarakat melalui hubungan antar tetangga (seperti gerakan Jogo Tonggo).
Mekanisme Koping: Humor dan kearifan lokal menjadi cara warga untuk bertahan dalam kondisi sulit.
Kemandirian: Banyak gerakan sosial muncul justru sebagai respons terhadap lambannya penanganan birokrasi dalam situasi darurat, seperti bencana alam.
Kontras dengan World Happiness Report (WHR)
Jika GFS menempatkan Indonesia di puncak, laporan berbeda datang dari World Happiness Report (WHR) tahun 2024. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-83 dari 147 negara.
Mengapa hasilnya berbeda? WHR memasukkan variabel yang lebih menitikberatkan pada kualitas hidup sistemik, seperti:
Tingkat pendapatan per kapita.
Persepsi terhadap korupsi.
Harapan hidup sehat dan kebebasan memilih.
Paradoks: Bahagia di Tengah Kesulitan Ekonomi
Data dari Indonesian Social Survey (ISS) Agustus 2025 menunjukkan adanya "paradoks kebahagiaan." Masyarakat Indonesia memiliki kesejahteraan psikologis yang cukup baik (skor 67,3), namun kesejahteraan ekonomi mereka sangat mengkhawatirkan (skor 42,6).
"Masyarakat seolah merasionalisasi keadaan sulit. Mereka merasa bahagia karena dukungan sosial, namun secara fundamental ekonomi rumah tangga mereka rapuh," ungkap Whinda Yustisia, Direktur Eksekutif ISS.
Kesimpulan dan Tantangan Kedepan
Tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo (mencapai 90,9% menurut ISS) merupakan modal politik yang besar. Namun, kebahagiaan yang berakar pada "survival mode" ini bisa berubah menjadi ketidakpuasan massal jika pemerintah tidak segera memperbaiki indikator ekonomi yang nyata.
Kebahagiaan rakyat Indonesia saat ini adalah sebuah legitimas sekaligus peringatan: bahwa warga telah melakukan bagian mereka untuk tetap harmonis, kini giliran pemerintah mewujudkannya dalam kesejahteraan material.

Komentar
Posting Komentar