Antara Canda dan Trauma: Kisah "Emak-emak" Lumajang yang Minta Gunung Semeru Dipindahkan
Antara Canda dan Trauma: Kisah "Emak-emak" Lumajang yang Minta Gunung Semeru Dipindahkan
Lumajang – Sebuah video singkat yang menampilkan curhatan jujur seorang warga lereng Gunung Semeru mendadak viral di platform TikTok. Adalah Gimah, seorang ibu dari Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, yang menarik perhatian jutaan netizen lewat cara uniknya mengekspresikan rasa lelah menghadapi bencana yang terus berulang.
Dalam unggahan akun @tni_in_action yang telah ditonton lebih dari 1,7 juta kali, Gimah melontarkan permintaan yang terdengar mustahil namun menggelitik: meminta agar Gunung Semeru dipindahkan atau kawahnya ditutup saja.
"Kelakar" di Tengah Ancaman Erupsi
Meski banyak warganet yang menanggapinya dengan tawa, ucapan Gimah sebenarnya merefleksikan kepasrahan warga yang hidup di zona merah. Berikut adalah beberapa poin menarik dari celotehannya:
Usul Pindah Gunung: Gimah berseloroh meminta pemerintah untuk merelokasi gunung tersebut agar warga bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang erupsi setiap empat tahun sekali.
Logika Semen se-Indonesia: Ia juga sempat memention Bupati Lumajang, Indah Amperawati Masdar, dengan candaan bahwa seluruh semen di Indonesia pun tak akan cukup untuk menutup kawah Semeru.
Realita Trauma: Di balik senyumnya, Gimah menceritakan momen mencekam saat erupsi 19 November 2025 lalu, di mana ia menyaksikan lahar yang awalnya kecil tiba-tiba membesar dan debu panas mulai mengepung pemukimannya.
Kondisi Terkini di Desa Supiturang
Beruntung, rumah yang dihuni Gimah dan suaminya di Dusun Gemukmas tidak mengalami kerusakan parah, meski debu vulkanik sempat menyelimuti bagian depan rumah mereka.
"Awalnya saya tenang karena laharnya biasa saja, tapi lama-lama membesar. Saat saya lari ke arah Supiturang, debunya sudah sangat tebal dan terasa panas," kenang Gimah dalam video tersebut.
Langkah Mitigasi: Membendung Aliran Lahar
Menanggapi risiko bencana yang masih tinggi, aparat gabungan tidak tinggal diam. Fokus utama saat ini adalah melindungi pemukiman dari potensi luberan lahar dingin maupun panas di masa mendatang.
Upaya yang sedang dilakukan meliputi:
Revitalisasi Jalur Lahar: Personel Korem 083 Baladhika Jaya dikerahkan untuk menormalisasi aliran sungai agar material vulkanik tidak masuk ke area warga.
Pembangunan Tanggul Darurat: Penggunaan alat berat difokuskan untuk membangun benteng pertahanan di titik-titik rawan Desa Supiturang.
Pemantauan Cuaca: Mengingat intensitas hujan yang masih fluktuatif, petugas terus bersiaga untuk memberikan peringatan dini kepada warga.
Peltu Suwandi dari Korem 083 Baladhika Jaya menegaskan bahwa pembangunan tanggul ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek agar jika terjadi aktivitas vulkanik susulan, materialnya tidak meluap ke rumah-rumah penduduk.


Komentar
Posting Komentar