Krisis Iran Memanas: Angka Kematian Diprediksi Tembus 5.000 Jiwa di Tengah Ancaman Ekstrem

Krisis Iran Memanas: Angka Kematian Diprediksi Tembus 5.000 Jiwa di Tengah Ancaman Ekstrem


TEHERAN, 20 Januari 2026 – Gelombang demonstrasi besar yang mengguncang Iran dilaporkan telah menelan korban jiwa dalam skala yang sangat besar. Meski data resmi belum dirilis secara transparan oleh pemerintah pusat, berbagai sumber kredibel mulai melaporkan angka kematian yang sangat mengkhawatirkan akibat bentrokan antara warga dan aparat.

Data Korban yang Terus Meroket

Beberapa lembaga dan narasumber memberikan gambaran mengenai besarnya dampak kemanusiaan dari konflik ini:

  • Estimasi Pejabat: Seorang narasumber dari pihak Iran menyebut kepada Reuters bahwa total korban tewas bisa mencapai 5.000 orang, di mana 500 di antaranya merupakan personel keamanan negara.

  • Laporan Aktivis: Lembaga HAM internasional, HRANA, telah mengonfirmasi 3.308 kematian dan memantau sekitar 4.300 kasus tambahan. Mereka juga mencatat jumlah penangkapan massal yang melampaui 24.000 orang.

  • Perspektif Pemerintah: Teheran mengakui adanya gugurnya 100 aparat keamanan, namun menuding "kelompok teroris bersenjata" sebagai pemicu eskalasi berdarah tersebut.

Pezeshkian Peringatkan AS: Jangan Intervensi

Situasi domestik yang kacau kini menyeret ketegangan internasional. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump agar tidak mencoba melakukan aksi militer atau campur tangan politik.

Melalui unggahan di media sosial, Pezeshkian menyatakan bahwa setiap tindakan agresif dari Washington akan memicu balasan yang sangat keras. Hal ini merespons ancaman Trump yang berencana melakukan intervensi jika eksekusi mati terhadap para tahanan tetap dilaksanakan.

"Agresi yang tidak adil dari pihak asing hanya akan dibalas dengan tindakan yang memuakkan. Menyerang kedaulatan kami sama saja dengan memicu perang total," tegas Pezeshkian.

 Hukuman "Mohareb" dan Konflik Perbatasan

Lembaga peradilan Iran di bawah juru bicara Asghar Jahangir memberi sinyal kuat akan adanya hukuman berat bagi para perusuh. Istilah hukum Islam Mohareb atau "berperang melawan Tuhan" mulai diterapkan, yang secara legal memungkinkan negara untuk menjatuhkan hukuman mati.

Titik Krusial Konflik:

  1. Provinsi Kurdi: Wilayah barat laut menjadi medan tempur paling berdarah. Muncul laporan tentang kelompok separatis bersenjata yang mencoba masuk dari arah Irak untuk memperkeruh suasana.

  2. Pemutusan Koneksi: NetBlocks mencatat bahwa pemerintah kembali memberlakukan pemadaman internet di beberapa wilayah strategis guna memutus komunikasi antar-demonstran.

  3. Transisi Isu: Protes yang awalnya bermula dari keluhan anjloknya nilai tukar mata uang di pasar-pasar kini telah berubah menjadi gerakan politik besar yang menuntut perubahan sistem pemerintahan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Insiden Patwal Senggol Mobil Warga di Tol Tomang Berakhir Damai secara Kekeluargaan

Konfrontasi di Persidangan: Ammar Zoni Sangkal Sebutan 'Gudang' Sabu dalam BAP

Antara Canda dan Trauma: Kisah "Emak-emak" Lumajang yang Minta Gunung Semeru Dipindahkan